Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, menginstruksikan seluruh camat dan lurah untuk siaga satu dan menjadi garda terdepan dalam menjaga keamanan menyusul aksi brutal geng motor di empat lokasi berbeda. Peristiwa yang terjadi pada 25 Oktober 2026 tersebut mengakibatkan satu korban meninggal dunia, satu korban kritis, dan satu korban rawat jalan. Pemkot Mataram menegaskan bahwa keamanan adalah tanggung jawab bersama yang harus diantisipasi melalui deteksi dini oleh aparatur kelurahan.
MATARAM, ntb.saatini.com - Maraknya aksi kekerasan jalanan yang diduga dilakukan oleh kelompok geng motor di Kota Mataram,Nusa Tenggara Barat (NTB), memicu perhatian serius pemerintah daerah.
Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, menginstruksikan seluruh camat dan lurah di wilayahnya untuk lebih responsif serta berdiri di barisan terdepan dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Respons tegas ini dikeluarkan usai insiden penyerangan brutal oleh geng motor yang terjadi dalam satu malam di empat lokasi berbeda pada 25 Oktober 2026, yakni di kawasan Punia, depan Lombok Epicentrum Mall, Ampenan, dan Udayana.
"Keamanan dan ketertiban masyarakat tidak boleh hanya menjadi urusan aparat keamanan. Namun harus menjadi tanggung jawab bersama yang diwujudkan melalui kehadiran pemerintah, ketegasan aparatur, dan kepedulian seluruh elemen masyarakat," tegas Mohan Roliskana di Mataram, Rabu (28/10/2026).
Aksi penyerangan tanpa alasan jelas tersebut memakan tiga orang korban warga sipil yang kala itu hanya sedang keluar mencari makan:
Wali kota menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak boleh pasif atau sekadar menunggu laporan saat situasi sudah membesar. Deteksi dini dan kepedulian aparatur kelurahan menjadi kunci utama mencegah teror serupa terulang kembali.
Mohan meminta para pimpinan wilayah tingkat kecamatan dan kelurahan untuk tidak sekadar menjalankan fungsi administratif, melainkan aktif memetakan potensi gangguan keamanan di lingkungan warga.
"Camat dan lurah tidak boleh hanya menjadi administrator wilayah, tetapi harus menjadi garda terdepan dalam membaca persoalan dan memastikan kehadiran pemerintah dirasakan langsung oleh masyarakat. Kedekatan dengan warga harus diterjemahkan menjadi kepekaan, sementara kewenangan yang dimiliki harus diwujudkan melalui langkah konkret dan terukur," lanjut Mohan.
Guna mengembalikan kondusivitas Kota Mataram, Wali Kota menggarisbawahi tiga arahan penting bagi jajarannya: